Senin, 14 Januari 2013

MODEL PEMBELAJARAN CIRC


MAKALAH
MODEL PEMBELAJARAN CIRC
 (COOPERATIVE INTEGRATED READING AND COMPOSITION)
Dibuat Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika
Dosen pengampu : Aryo Andri Nugroho, S.Si, M.Pd



Disusun oleh:
Kelompok 9 (3D)
Dwi Saryuniati                      (11310164)
Pipit Esti B                             (11310179)
Anik Zahrotus Sajida           (11310184)

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
IKIP PGRI SEMARANG
2012



KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT, atas limpahan rahmat, nikmat, dan kesehatan kepada  penulis, karena berkat usaha, kerja keras, dan ketekunan penulis telah dapat menyelesaikan  penyusunan makalah yang berjudul “Model Pembelajaran CIRC” dengan baik. Makalah ini ditujukan guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika.
Makalah ini disusun dari berbagai sumber referensi, yaitu buku panduan tentang model-model pembelajaran yang ada di Indonesia, beberapa jurnal pendidikan nasional dan jurnal pendidikan internasional yang penulis dapatkan dari internet. Tidak lupa penulis mengucapakan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Inovasi Pembelajaran Matematika karena telah membimbing dan memberikan arahan kepada penulis demi terselesainya makalah ini. Serta kepada teman-teman mahasiswa sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan pengetahuan kepada para pembaca. Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak demi tersempurnanya makalah selanjutnya.

                                                                        Semarang,       Desember 2012

                                                                                    Penulis,





BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Belajar/learning merupakan suatu aktivitas yang di dalamnya terdapat sebuah proses dari tidak tahu menjadi tahu, tidak mengerti menjadi mengerti, tidak bisa menjadi bisa untuk mencapai hasil yang optimal. Dalam proses pembelajaran sangat memerlukan model pembelajaran, strategi pembelajaran, metode  pembelajaran, tehnik pembelajaran, serta taktik pembelajaran. Hal tersebut sangat dibutuhkan guna terjadinya kelancaran dalam proses pembelajaran serta hasil pelajaran yang optimal.
Dalam jurnal Internasional Biology Education Vol. 2, 1–5, Spring 2003:
Cooperative learning, a theoretically grounded and well-researched approach in education that can increase students’ learning of subject matter and improve their attitudes toward both academics in general and the subject matter specifically (Springer et al., 1999; Johnson et al., 2000). If one knows the definitions of cooperative and learning,onemightassumethatcooperativelearningissimplythesum of these definitions. Often, cooperative learning is portrayed as simply providing students with a group task or project becauseofalackofmaterialsoralowteacher-to-studentratioin the classroom. These scenarios could not be further from the scholarly definition of cooperative learning as recognized in the educational research literature (Johnson et al., 1991, 1993).
Salah satu model pembelajan yang dapat digunakan oleh seorang guru adalah model pembelajaran Cooperative. Cooperative adalah suatu sistem yang didasarkan pada alasan bahwa manusia sebagai makhluk individu yang berbeda satu sama lain sehingga konsekuensi logisnya manusia harus menjadi makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesama (Nurhadi 2003: 60)
Abdurrahman dan Bintoro (2000) dalam Nurhadi 2003 : 61 menyatakanpembelajaran kooperatif adalah suatu sistem yang di dalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Adapun berbagai elemen dalam pembelajaran kooperatif adalah adanya :


1.                   Saling ketergantungan positif, 
2.                   Interaksi tatap muka,
3.                   Akuntabilitas individual, dan 
4.                  Keterampilan untuk menjalin hubungan antara pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan.
Menurut Davidson dan Warsham (dalam Isjoni, 2011: 28), “Pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektifitas yang mengintegrasikan keterampilan sosial yang bermuatan akademik”.

Slavin (dalam Isjoni, 2011: 15) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Jadi dalam model pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan pembentukan kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang efektif. 
Dalam model pembelajaran Cooperative learning terdapat suatu model pembelajaran salah satunya model pembelajaran CIRC (Cooperative Integrated Reading and Composition)
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ?
2.      Apa sajakah komponen komponen dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC ?
3.      Bagaimanakah ciri – ciri model pembelajaran CIRC?
4.      Bagaimanakah cara – cara menggunakan model pembelajaran CIRC?
5.      Apa sajakah kelebihan model pembelajaran tipe CIRC ?
6.      Apa sajakah kekurangan model pembelajaran tipe CIRC ?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
2.      Untuk mengetahui komponen-komponen dalam pelaksanaan model pembelajaran kooperatif tipe CIRC.
3.      Agar memahami ciri – ciri model pembelajaran CIRC.
4.      Supaya mengerti cara – cara menggunakan model pembelajaran CIRC.
5.      Agar mengetahui Apa sajakah kelebihan model pembelajaran tipe CIRC.
6.      Agar mengetahui kekurangan model pembelajaran tipe CIRC.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    Uraian Model Pembelajaran CIRC
      Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC pertama kali dikembangkan oleh Robert E. Slavin dkk. Alasan utama pengembangan metode ini karena kekhawatiran mereka terhadap pengajaran membaca, menulis dan seni berbahasa oleh guru masih dilakukan secara tradisional.
      Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC merupakan singkatan dari Cooperative Integrated Reading and Composition, termasuk salah satu model pembelajaran cooperative learning yang pada mulanya merupakan pengajaran kooperatif terpadu membaca dan menulis yaitu sebuah program komprehensif atau luas dan lengkap untuk pengajaran membaca dan menulis untuk kelas-kelas tinggi sekolah dasar. Namun, CIRC telah berkembang bukan hanya dipakai pada pelajaran bahasa tetapi juga pelajaran eksak seperti pelajaran matematika.
Dalam model pembelajaran CIRC, siswa ditempatkan dalam kelompok-kelompok kecil yang heterogen, yang terdiri atas 4 atau 5 siswa. Dalam kelompok ini tidak dibedakan atas jenis kelamin, suku/bangsa, atau tingkat kecerdasan siswa. Jadi, dalam kelompok ini sebaiknya ada siswa yang pandai, sedang atau lemah, dan masing-masing siswa merasa cocok satu sama lain. Dengan pembelajaran kooperatif, diharapkan para siswa dapat meningkatkan cara berfikir kritis, kreatif dan menumbuhkan rasa sosial yang tinggi.

B.     Komponen-komponen dalam Pembelajaran CIRC
Model pembelajaran CIRC memiliki delapan komponen. Kedelapan komponen tersebut sebagai berikut :
1.      Teams, yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
2.      Placement test, misalnya diperoleh dari rata-rata nilai ulangan harian sebelumnya atau berdasarkan nilai rapor agar guru mengetahui kelebihan dan kelemahan siswa pada bidang tertentu.
3.      Student creative, melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi oleh keberhasilan kelompoknya.
4.      Team study, yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh kelompok dan guru memberika bantuan kepada kelompok yang membutuhkannya.
5.      Team scorer and team recognition, yaitu pemberian skor terhadap hasil kerja kelompok dan memberikan kriteria penghargaan terhadap kelompok yang berhasil secara cemerlang dan kelompok yang dipandang kurang berhasil dalam menyelesaikan tugas.
6.      Teaching group, yakni memberikan materi secara singkat dari guru menjelang pemberian tugas kelompok.
7.      Facts test, yaitu pelaksanaan test atau ulangan berdasarkan fakta yang diperoleh siswa.
8.      Whole-class units, yaitu pemberian rangkuman materi oleh guru di akhir waktu pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.

C.    Ciri – ciri Model Pembelajaran CIRC
Di dalam pembelajaran kooperatif terdapat bermacam-macam metode pembelajaran. Salah satunya adalah metode pembelajaran CIRC yang dirancang khusus untuk pembelajaran membaca dan menulis, untuk membedakan metode pembelajaran CIRC dengan metode pembelajaran kooperatif lainnya, berikut disampaikan beberapa ciri-ciri dari CIRC, yaitu:
a.    Adanya suatu tujuan kelompok.
b.    Adanya tanggung jawab tiap individu.
c.    Tidak adanya tugas khusus.
d.   Soal – soal pemecahan dalam model CIRC biasanya berbentuk cerita.
e.    Tiap anggota dalam satu kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk sukses.
f.     Dibutuhkan penyesuaian diri tiap anggota kelompok.

D.    Langkah - langkah Model Pembelajaran CIRC
Penerapan model pembelajaran CIRC untuk meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dapat ditempuh denga:.
1.      Guru menerangkan suatu pokok bahasan matematika kepada siswa, pada penelitian ini digunakan LKS/buku yang berisi materi yang akan diajarkan pada setiap pertemuan.
2.      Guru memberikan latihan soal
3.      Guru siap melatih siswa untuk meningkatkan keterampilan siswanya dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah melalui penerapan model CIRC.
4.      Guru membentuk kelompok-kelompok belajar siswa yang heterogen yang terdiri atas 4 atau 5 siswa.
5.      Guru mempersiapkan soal pemecahan masalah dalam bentuk kartu masalah dan membagikannya kepada setiap kelompok.
6.      Guru memberitahukan agar dalam setiap kelompok terjadi serangkaian kegiatan bersama yang spesifik (kerja sama).
7.      Guru mengawasi kerja kelompok, Guru bertindak sebagai nara sumber atau fasilitator.
8.      Ketua kelompok melaporkan keberhasilan atau hambatan kelompoknya
9.      Ketua kelompok harus dapat menetapkan bahwa setiap anggota telah  memahami, dan dapat mengerjakan soal pemecahan masalah yang diberikan.
10.  Guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk menyajikan temuannya.
11.  Guru membubarkan kelompok dan siswa kembali ke tempat duduknya
12.  Guru dan siswa membuat kesimpulan bersama.
13.  Guru memberikan tugas/PR secara individual.
Dari langkah – langkah model pembelajaran CIRC di atas didapatkan fase – fase sebagai berikut.
a. Fase pertama, yaitu orientasi
Pada fase ini, guru melakukan apersepsi dan pengetahuan awal siswa tentang materi yang akan diberikan. Selain itu juga memaparkan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan kepada siswa.

b. Fase kedua, yaitu organisasi
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok, dengan memperhatikan keheterogenan akademik. Membagikan bahan bacaan tentang materi yang akan dibahas kepada siswa. Selain itu menjelaskan mekanisme diskusi kelompok dan tugas yang harus diselesaikan selama proses pembelajaran berlangsung.
c. Fase ketiga yaitu pengenalan konsep
Dengan cara mengenalkan tentang suatu konsep baru yang mengacu pada hasil penemuan selama eksplorasi. Pengenalan ini bisa didapat dari keterangan guru, buku paket, film, kliping, poster atau media lainnya.
d. Fase keempat, yaitu fase publikasi
Siswa mengkomunikasikan hasil temuan-temuannya, membuktikan, memperagakan tentang materi yang dibahas baik dalam kelompok maupun di depan kelas.
e. Fase kelima, yaitu fase penguatan dan refleksi
Pada fase ini guru memberikan penguatan berhubungan dengan materi yang dipelajari melalui penjelasan-penjelasan ataupun memberikan contoh nyata dalam kehidupan seharihari. Selanjutnya siswa pun diberi kesempatan untukmerefleksikan dan mengevaluasi hasil pembelajarannya.
E.     Keunggulan Model Pembelajaran CIRC
1.      CIRC amat tepat untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah
2.      Dominasi guru dalam pembelajaran berkurang..
3.      Siswa termotivasi pada hasil secara teliti, karena bekerja dalam kelompok.
4.      Para siswa dapat memahami makna soal dan saling mengecek pekerjaannya.
5.      Membantu siswa yang lemah.
6.      Meningkatkan hasil belajar khususnya dalam menyelesaikan soal yang berbentuk pemecahan masalah.
7.      Pengalaman dan kegiatan belajar anak didik akan selalu relevan dengan tingkat perkembangan anak.
8.      Seluruh kegiatan belajar lebih bermakna bagi anak didik sehingga hasil belajar anak didik akan dapat bertahan lebih lama.
9.      Membangkitkan motivasi belajar, memperluas wawasan dan aspirasi guru dalam.
10.  Peserta didik dapat memberikan tanggapannya secara bebas.
11.  Dilatih untuk dapat bekerjasama dan menghargai pendapat orang
12.  lain.
13.   Menumbuhkan rasa senang yang merangsang peserta didik untukaktif dalam kelompok.
14.  Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasamadengan temannya.
15.  Membentuk kemurnian ungkapan dalam interaksi dan pemecahanmasalah yang kreatif.
16.  Meningkatkan kualitas gagasan
F.     Kelemahan Model Pembelajaran CIRC
1.      Pada saat presentasi hanya peserta didik yang aktif yang tanya.
2.      Banyak memboroskan waktu.
3.      Persiapan yang perlu dilakukan guru yang dalam menggunakanmodel pembelajaran CIRC cukup rumit.
4.      Pengelolaan kelas dan pengoganisasian peserta didik lebih sulit.









BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
1.      Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC) merupakan salah satu tipe model pembeljaran cooperative learning kelompok kecil, para siswa diberi suatu teks atau bacaan kemudian siswa latihan membaca atau saling membaca, memahami ide pokok, saling merevisi, dan menulis ikhtisar certa atau memberi tanggapan terhadap isi cerita, atau mempersiapkan tugas tertentu dari guru.
2.      Soal – soal pemecahan dalam model CIRC biasanya berbentuk cerita.
3.      Unsur– unsur yang ada dalam model pembelajaran CIRC antara lain: teams, placement test, student creative, team study, team scorer and team recognition, teaching group, fact test and whole-class units.
4.      ciri-ciri dari CIRC, yaitu:
a.       adanya suatu tujuan kelompok.
b.      adanya tanggung jawab tiap individu.
c.       tidak adanya tugas khusus.
d.      tiap anggota dalam satu kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk sukses.
e.       dibutuhkan penyesuaian diri tiap anggota kelompok.
5.      Terdapat tiga fase dalam model pembelajaran CIRC antara lain: fase orientasi, fase organisasi, fase pengenalan konsep, fase publikasi, dan fase penguatan dan refleksi.
6.      Kelebihan model pembelajaran CIRC adalah dominasi guru dalam pembelajaran berkurang sehingga siswa dapat aktif dalam pembeljaran. Juga dapat meningkatakan motivasi siswa dalam belajar dan memperluas wawasan guru dalam pembelajaran.
B.       Saran
Guru sebaiknya lebih cermat dalam memilih metode yang tepat dalam pembelajaran. Hal ini karena tidak semua materi yang ada dalam matematika cocok untuk diterapkan dalam semua model pembelajaran. Pemilihan model pembelajaran yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan akan memberikan hasil yang optimal pada peserta didik nantinya
DAFTAR PUSTAKA
            Arik Susanti. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe CIRC Untuk
                            Meningkatkan Kemampuan Menulis Bahasa Inggris Mahasiswa D3 Administrasi Negara
                            FIS Unesa. Vol. 2 No. 1.
Suyatno, Memjelajahi Pembelajaran Inovatif, (Jatim: Masmedia Buana Pustaka, 2009), hlm, 68..
Suyitno, Amin. 2005. Mengadopsi Pembelajaran CIRC dalam Meningkatkan Keterampilan Siswa Menyelesaikan Soal Cerita. Seminar Nasional F.MIPA UNNES.
Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran Sebagai Referensi bagi Pendidikan Dalam implementasi Pembelajaran yang Efektif, (Jakarta: Kencana, 2009).hlm, 283
UNNES.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar